Selasa, 30 November 2010

GKI Humanitarian Refugee's Meeting

Update Tim GKI 29-30 November 2010

Kunjungan Kerja Ketua Gerakan Kemanusiaan Indonesia,
Jumpa Pengungsi Tim GKI Jogja

30 November 2010 kunjungan pimpinan Gerakan Kemanusiaan Indonesia, Pdt. Kuntadi Sumadikarya, dilanjutkan dengan mengunjungi Posko-posko Tim GKI Jogja di posko Adisucipto dan posko-posko di Cangkringan.

Para Pengungsi Posko Adisucipto yang Terawat Baik

Di Posko Adisucipto, yang sebenarnya adalah pos GKI Gejayan, ditampung para pengungsi Merapi. Mereka bukan kelompok orang anonim, melainkan orang-orang yang dikenal namanya, dusunnya, keluarganya, kerugiannya. Menurut saya mereka adalah pengungsi yang berbahagia oleh karena mereka dirawat, diasuh dan disantuni dengan baik oleh Tim GKI Jogja. Mereka ditampung di ruang kebaktian yang cukup luas. Di tempat ini, mungkin mereka satu-satunya kelompok pengungsi yang menempati barak pengungsian yang dilengkapi dengan pengatur udara dan televisi. Bahkan sebuah genset siap manakala terjadi mati listrik.

Pada saat puncak krisis, ketika para pengungsi lain prihatin dan kuatir akan ternak mereka, Tim GKI Jogja bukan saja menampung para pengungsi ini, melainkan juga ternak mereka. Jadi Posko Adisucipto merupakan posko yang meriah sekali dengan manusia dan ternak. Untunglah lahannya cukup luas untuk menampung mereka semua. Sesudah Merapi mereda jumlah mereka masih ada 80 jiwa, yang hidup bersama-sama dalam pengungsian ini.

Para pengungsi ini dilayani dengan hati gembira, sehingga perjumpaan antara pengungsi dan kelompok relawan setiap hari terasa sebagai sebuah kekerabatan keluarga besar. Konsep pemberdayaan “dari pengungsi untuk pengungsi” diterapkan. Para pengungsi diikutsertakan dan kemudian mengambil-alih tugas dapur umum. Tim GKI Jogja hanya menyediakan peralatan dan bahan. Solidaritas bukan saja terjadi antara relawan dan pengungsi, atau di antara para pengungsi sendiri, tetapi juga antara pengungsi dan masyarakat sekitar.


Pada hari-hari tertentu, para pengungsi anak-anak dan orangtua mereka dibawa keTaman Gembira Loka untuk melenyapkan kejenuhan. Gembira Loka menggratiskan tiket masuk para pengungsi ini atas permintaan Tim GKI Jogja. Mereka bersukacita, sebab di antara mereka ada yang belum pernah menikmati Gembira Loka seumur hidup mereka. Dengan begitu, bencana menjadi berkat di mana mereka mendapat peluang yang tidak mereka dapatkan jika tak ada bencana. Di sepanjang kegiatan ini, relawan Tim GKI Jogja memfasilitasi, namun beberapa pengungsi memimpin sendiri kelompok mereka. Mereka dengan gembira ikut melayani dan bukan dilayani.

Sehari-hari dapat disaksikan bagaimana para pengungsi menghabiskan waktu dengan pekerjaan produktif tetapi juga dengan bermain. Halaman Posko Adisucipto dapat diubah menjadi lapangan voli sederhana. Ruang dan kamar dapat diubah menjadi tempat lokakarya. Anak-anak diajak memainkan permainan produktif dan belajar berhastakarya.

Ketika saya berkunjung, 30 November 2010, Tim GKI Jogja sedang mempersiapkan keberangkatan mereka ke sebuah desa kerajinan. Para pengrajin di desa tersebut sudah berkomitmen mengajari keterampilan mereka kepada para pengungsi. Dengan demikian para pengungsi yang tidak mempunyai mata-pencaharian lagi dapat beralih menjadi pengrajin. Ini adalah program pemberdayaan pengungsi.

Lintas-Iman

Dengan barak sebaik ini dan fasilitas kehidupan yang serba mencukupi, sebenarnya mudah ada tuduhan bahwa Tim GKI Jogja sedang melakukan kristenisasi,walaupun tidak terbersit sedikitpun niatan seperti itu dalam aktivitas menolong para pengungsi dari Tim GKI. Namun tuduhan semacamitu tidak pernah muncul. Mengapa? Karena secara rutin di posko ini dilakukan doa bersama lintas-iman. Pendeta, ustadz dan kyai berkumpul dan berdoa bersama-sama dengan para pengungsi. Pada Hariraya Idul-Adha, 17 November 2010, dilakukan pemotongan kambing kurban yang kemudian dibagikan kepada para pengungsi. Donasi kambing berlebihan, sehingga ada bagian yang dibagikan juga ke tempat pengungsian lainnya. Siraman rohani Islam dan kegiatan pengajian juga dilakukan di posko ini. Di pihak lain, setiap hari Minggu dilakukan kebaktian Minggu di posko ini bagi para pengungsi yang Kristiani. Jadi hal-hal di atas menegaskan kembali kebijakan Tim GKI, yang membantu tanpa pamrih apapun termasuk soal keagamaan. Pdt. Paulus Lie bercerita dengan gembira bahwa sejak beberapa waktu lalu, Tim GKI Jogja sudah tidak perlu membeli beras lagi bagi posko Adisucipto, karena para donatur dan aparat lokal yang mengetahui kebutuhan posko ini tak segan-segan secara rutin memberikan suplai secukupnya.

Para pengungsi yang siap kembali ke rumah mereka, diantar oleh relawan dan para pengungsi lainnya yang juga sudah menjadi relawan. Rumah mereka dibersihkan dari abu Merapi supaya layak huni. Mereka diijinkan pulang disertai perbekalan yang diberikan oleh Tim GKI Jogja. Tak heran jika sebagai perbandingan, para pengungsi di Maguwoharjo susut dari 120.000 menjadi 9.000 orang karena merasa kurang terurus; di posko Adisucipto pengungsi yang minta ijin pulang hanya dua keluarga. Mereka yang rumahnya hancur total dan tidak dapat dipergunakan lagi, akan mendapatkan shelter dari Tim GKI Jogja. Itupun akan dikerjakan oleh mereka sendiri dengan gambar, panduan, bahan dan peralatan dari Tim GKI Jogja. Ada yang lebih membesarkan hati Tim GKI Jogja. Penduduk Dusun Botokenceng di Bantul, yang dulu pada gempabumi 2006 dibantu Tim GKI Jogja sampai memiliki lagi rumah inti (shelter),kini datang kepada Tim GKI Jogja dan menyatakan kesediaan membantu membangun shelter Tim GKI Jogja bagi para pengungsi Merapi.

Posko Dusun Kiaran - Desa Wukirsari – Cangkringan

Saya tidak dapat mengunjungi semua posko binaan Tim GKI Jogja karena keterbatasan waktu. Namun beruntung dapat mengunjungi posko Kiaran-Wukirsari. Posko ini adalah tempat berkumpul dan berteduh penduduk apabilahari menjelang malam. Siang hari mereka biasa pulang kerumah dan melakukan tugas sehari-hari, tetapi bila malam menjelang tiba, kuatir erupsi terjadi lagi sewaktu mereka tertidur lelap, mereka berkumpul di posko Kiaran-Wukirsari ini.

Seharian itu saya menyaksikan bagaimana relawan Tim GKI Jogja yang adalah para pengungsi sendiri bekerja keras membawa tanki-tanki air @ 2.000 liter ke lima dusun dan menempatkannya di titik-titik strategis yang dapat diakses dengan mudah oleh penduduk. Tanki-tanki inipun di dapatkan tidak dengan membeli, melainkan meminjam dari Dinas PU Jogja yang segera merespon permintaan Tim GKI Jogja. Di Dusun Karanggeneng-Umbulharjo saya menyaksikan penduduk mempersiapkan lokasi dan memasang tanki air yang datang dengan sebuah truk besar di jalan dusun yang sempit. Mereka bergembira sebab jaminan air tersedia untuk segala keperluan kehidupan sehari-hari. Darimana air datang? Tim GKI Jogja tidak mempunyai kebijakan membeli air, melainkan mencarikan mata-air terdekat yang ada dan menyedot air serta membawanya ke tanki-tanki penampungan. Tim GKI Jogja diperlengkapi dengan dua mesin pompa air, satu menyedot dan satu menyemprot. Yang menjadi kesulitan mereka ialah di beberapa lokasi tidak ada listrik, sehingga mesin pompa air tidak dapat berfungsi, kecuali disambung dengan kabel ratusan meter ke sumber listrik terdekat. Armada pengangkut air setiap hari bolak-balik ke titik-titik tanki air di berbagai dusun guna menjamin ketersediaan air bagi penduduk. Hal mana dengan gembira dilakukan oleh para penduduk sendiri sebagai hasil pemberdayaan Tim GKI Jogja.

Di Dusun Srodokan, dekat “mantan” Kali Kuning. Saya sebut “mantan” karena saya menyaksikan Kali Kuning yang sudah lenyap tertutup lahar panas yang bahkan masih panas. Saya juga menyaksikan dusun di kanan dan kiri Kali Kuning yang kini sudah menjadi sungai dan gurun lahar. Pemandangan mengerikan karena terbayang bagaimana peristiwa itu berlangsung. Dalam tempo singkat rumah-rumah, pohon-pohon, perkebunan, dusun-dusun habis tersapu lahar. Saya melihat batu-batu sebesar rumah yang berasal dari erupsi Merapi, bertebaran di lokasi itu. Penduduk bercerita kepada saya bahwa sekalipun batu itu besar-besar tapi tapi jika diketuk akan hancur berhamburan, sebab batu-batu ini sudah “well done” dalam panas Merapi yang mencapai 600 Celcius. Beberapa relawan Tim GKI Jogja menunjuk ke arah gurun lahar dan berkata dengan sedih, “Dulu rumah saya di situ.”

Saya sempat jumpa dengan para penduduk yang sudah kembali dari pengungsian. Mereka bercerita bagaimana kebun salak mereka hancur. Padahal dusun ini dikenal sebagai penghasil Salak Pondoh yang terkenal dan mahal. Saya melihat bagaimana pohon kelapa dan pohon durian sekalipun masih berdiri, tetapi baik akarnya maupun batang dan buahnya sudah hangus. Pohon-pohon cabai kelihatan utuh namun cabainya sendirisdh hangus pula. Mata-pencaharian perkebunan dari penduduk di sini telah lenyap. Jika mereka tidak ditolong sudah dapat dipastikan mereka tidak dapat memulihkan sendiri kehidupan normal mereka. Pemerintah yang peduli, efektif dan efisien adalah tumpuan harapan mereka. Beban macam ini tidak dapat dipikulkan ke bahu Tim GKI, apalagi keseluruhannya.

(Kuntadi)

Report by
Pdt. Kuntadi Sumadikarya –
Head of GKI Humanitarian

KS: Rabu, 08 Desember 2010

Senin, 29 November 2010

Reflection: Uprighting People who can't Stand Upright

Refleksi Relawan Tim GKI Jogjakarta
29 November 2010 GKI Gejayan

“Menegakkan Orang Yang Tidak Dapat Berdiri Tegak”

Lukas 13:10-17

Pra-refleksi:

Perkenankan saya menyampaikan salam hangat dari rekan-rekan relawan dari GKI Batam sampai Bali.

Dalam bencana runtut Wasior,Mentawai, Merapi tampak jelas bahwa relawan kali ini benar-benar menyabung nyawa:

1. Di Wasior hujan lebat terus menerus menimbulkan potensi banjir bandang lagi dan mengancam para relawan Tim GKI.

2. Di Mentawai badai dan gelombang Samudera Hindia mengancam para relawan Tim GKI yang mencari dusun-dusun terpencil

3. Di Merapi erupsi dan awan panas berulangkali mengancam para relawan Tim GKI.

Pertama: Perempuan Anonim Yang Sakit Bungkuk dan Tidak Dapat Berdiri Tegak

Perempuan sakit itu tidak disebutkan namanya, anonim. Seperti kebanyakan pengungsi Merapi juga anonim bagi para relawan. Sudah selama 18 tahun perempuan ini “sakit sampai bungkuk punggungnya” dengan akibat “tidak dapat berdiri tegak” lagi. Para pengusung teologi feminisme tentu dapat beranggapan perikop ini memberi dasar teologis alkitabiah yang teguh sebagai landasan bagi topik perempuan dan jender.[1] Namun secara umum kita dapat dengan aman mengatakan simbolisme perempuan bungkuk ini, mewakili golongan manusia yang tidak mendapat kasih sayang, rawatan perhatian, atau mereka yang hidup terpinggirkan dan anonim. Entah dia sehat, sakit atau sekarat, ada atau tidak di sinagoga itu, sama sekali tidak ada artinya bagi semua orang di situ. Hanya bagi Yesus dia berarti.

Para pengungsi Merapi memenuhi kriteria-kriteria ini. Banyak pihak memberi perhatian kepada pengungsi bukan karena mereka pengungsi, melainlan demi kepentingan dan kepuasan pihak yang membantu itu. Kecuali mereka yang bersungguh-sungguh, di banyak tempat pihak-pihak yang membantu hanya datang di hari-hari pertama. Mereka hanya mendirikan tenda, memancangkan bendera masing-masing, bahkan banyak tenda dengan tanda palang merah namun tanpa dokter, perawat ataupun obat. Di salah satu pulau pantai barat Mentawai ada partai politik yang memasang bendera mereka yang berkibar megah, tanpa ada satu orangpun yang mengabdikan diri bagi korban bencana. Di Wasior beberapa hari sesudah banjir bandang, datang begitu banyak pihak dan relawan. Namun belum lagi air surut jumlah relawan sudah surut. Kompas.com 16 November 2010 menulis, sebulan setelah banjir bandang, relawan yang tetap tinggal hanyalah GKI dan PMI. Yayasan Ambulance 118 melapor bahwa sampai hari ini satu-satunya fasilitas kesehatan yang berfungsi di Wasior adalah “Rumah Sakit Darurat Gerakan Kemanusiaan Indonesia.” Ketika bagi begitu banyak pihak memandang para korban bencana sebagai tidak berarti, Tim GKI berupaya sekuat tenaga untuk memandang mereka sebagai sesama manusia, sahabat, saudara. Bagi Yesus, mereka ini seperti perempuan bungkuk yang tidak berarti bagi siapapun kecuali Yesus. Tim GKI memandang bantuan dan pertolongan bagi korban bencana adalah tindakan merawat Kristus sendiri. Dalam Mat 25:34-40, Yesus berkata, siapa memberi makan, minum, mengunjungi dan membebaskan orang-orang kecil dan menderita ini, sesungguhnya sedang merawat Yesus sendiri. Yesus terus menerus menunjukkan keberpihakan yang tegas dan jelas kepada orang-orang miskin, dan sikap sebaliknya terhadap orang yang tidak miskin.

Perempuan anonim tak bernama ini, datang ke sinagoga tidak minta disembuhkan. Dalam hal itu tampaknya, selain tidak dapat berdiri tegak, ia juga tidak dapat bicara dengan leluasa. Mungkin juga karena sudah putus-asa setelah berulangkali gagal meminta sesuatu kepada laki-laki. Perempuan ini dibuat menjadi “bisu” oleh lingkungannya. Ini seperti pengungsi yang dijanjikan sapinya akan dibeli pemerintah, tapi tak kunjung dibeli sehingga mereka menjualnya dengan harga murah. Tak kuat meminta dan menunggu lagi. Atau seperti puluhan ribu pengungsi yang dikonsentrasikan dan disantuni makan, namun antri ambil makanan berjam-jam sehingga mereka tak kuat lagi dan melakukan eksodus dari stadion Maguwoharjo.

Kedua: Yesus Menegakkan Perempuan Yang Tidak Dapat Berdiri Tegak

Namun Yesus memanggil perempuan bungkuk itu dan mengumumkan kesembuhannya serta meletakkan tangan-Nya. Seketika itu perempuan tersebut sembuh. Kini ia dapat berdiri tegak. Tentu saja kini pandangan perempuan ini mengalami perubahan perspektif, dapat melihat lebih luas dan jauh, ketimbang ketika ia bungkuk. Perempuan itu bersyukur memuliakan Allah karena kesembuhan dan pembaruan yang dialaminya. Ia bukan saja dapat berdiri tegak, kini ia juga leluasa bicara. Ia tidak dibisukan lagi. Mereka yang mengalami kuasa ilahi selaku seorang subyek, tak bisa tidak akan dipenuhi dengan rasa syukur, sekalipun semulanya ia tidak meminta atau membayangkan anugerah itu. Sebaliknya mereka yang mengalami kuasa ilahi selaku obyek, justru tidak sanggup bersyukur seperti sembilan dari sepuluh orang buta yang disembuhkan oleh Yesus.

Lain dari perempuan itu, kepala rumah ibadat menjadi gusar. Tidak cukup jelas apakah ia gusar kepada Yesus, atau kepada perempuan itu, sebab ia berkata kepada orang banyak. "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Ini seperti kejadian di Mentawai. Ketika Tim GKI melihat begitu banyak bayi dan anak kehilangan orang tua mereka dalam tsunami yang baru lalu, Bersama Gereja Mentawai, Tim GKI segera merealisasikan pembangunan sebuah gedung untuk panti asuhan yang akan dikelola oleh Gereja Mentawai. Namun demikan tindakan ini sedikit disesalkan karena GKI tidak mau bekerja dalam koordinasi. Semacam konsorsium berniat membangun Mentawai secara komprehensif dan sedang menyusun sebuah masterplan pemberdayaan Mentawai. Ini seperti kepala rumah ibadat yang berpegang kepada keteraturan sampai-sampai tidak dapat lagi melihat tindakan menegakkan orang yang tidak dapat berdiri tegak sebagai sebuah kebajikan yang tidak dapat dtunda lagi.

Kepala rumah ibadat ini memang tidak marah karena penyembuhan itu sendiri, melainkan menjadi gusar karena momentumnya. Perempuan ini sudah sakit selama 18 tahun, jadi apa salahnya kalau menunggu satu dua hari lagi untuk disembuhkan? Bayi-bayi dan anak-anak yatim piatu Mentawai itu memang sudah kehilangan orangtua mereka, kenapa tidak menunggu sampai masterplan dilaksanakan?

Mengapa pula harus dilakukan pada hari kudus seperti Hari Sabat dan di tempat kudus seperti sinagoga? Kepala rumah ibadat ini memang berkewajiban menjaga disiplin Hari Sabat, ia memberlakukannya sebagai disiplin yang given.Dengan perkataan lain, ia memegang Sabat secara taken for granted (begitu saja). Ia tidak pernah berpikir out of the box atau membuat pembandingan yang mencerahkan atas doktrin yang telah usang. Setidaknya untuk mencari tahu apakah Tuhan setuju kepada pendapatnya atau tidak. Kemampuan menguji yang given dan yang taken for granted adalah kemampuan spiritual untuk melangkah kepada keluhuran perspektif yang tak ternilai. Waktu kudus dan tempat kudus tidak menentukan tindakan dan sikap yang mengusung maksud Tuhan. Sebaliknya waktu yang tidak kudus dan tempat yang tidak kudus tidak selalu menentukan tindakan dan sikap yang melawan maksud Tuhan. Abraham di Sodom dan Gomora, Yunus di Niniwe, Paulus di Atena semuanya ada di tempat dan waktu yang tidak kudus, tapi mereka semua mengusung maksud Tuhan.

Ketiga: Pencerahan bagi Orang Banyak

Akhirnya tibalah saatnya Yesus melakukan pencerahan. Yesus menggugat kedisiplinan yang kaku dan beku dari kepala rumah ibadat itu. Yesus menggugahnya dengan pembandingan sederhana. “bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?” Tentu saja di situ diasumsikan bahwa kepala rumah ibadat dan setiap orang yang hadir di sinagoga itu, tak pernah menerapkan hukum Sabat atas lembu dan keledai. Memberi minum lembu atau keledai, serta mengeluarkan dan memasukkan ternak mereka ke dalam kandang, tak pernah terpikir sebagai pelanggaran Hari Sabat. Jadi Yesus memperlihatkan betapa tidak konsistennya doktrin kepala rumah ibadat itu atas Hukum Hari Sabat, bahkan betapa tidak adil penilaiannya antara memberi minum lembu dan penyembuhan manusia. Di mata Yesus, perempuan yang tidak dapat berdiri tegak dan tidak dapat leluasa berbicara ini, sama kudusnya dengan sinagoga atau Sabat, karena ia keturunan Abraham. Atas perempuan ini berlaku janji-janji hebat Allah kepada Abraham. Martabat perempuan itu tidak sekadar bukan lembu atau keledai, dia jauh lebih bernilai karena dia adalah keturunan dalam umat pilihan Allah yang Allah janjikan.

Pencerahan yang dilakukan Yesus berhasil baik. “semua lawan-Nya merasa malu” dan publik “bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.” Merasa malu atas kenaifan sendiri adalah sebuah karakter yang indah. Itu berarti lawan-lawan-Nya tahu kekeliruan mereka. Siapa yang sanggup “tahu malu” dan sanggup mengenali masalah pada diri sendiri, akan gampang memperbaiki. Sebaliknya siapa yang “tidak tahu malu” dan tidak dapat mengenali masalah pada diri sendiri, tak akan pernah memperbaiki kekeliruannya. Pencerahan Yesus ini penting, karena dalam cerita-cerita Sabat lain, bukankah lawan-lawan Yesus justru makin bernafsu membunuh Yesus? Bahwa publik “bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.” Juga pertanda baik bahwa pencerahan Yesus mencapai sukses.

Perikop ini mengutarakan pesan Injil tentang pencerahan Yesus dalam menegakkan orang yang tidak dapat berdiri tegak. Kiranya kita tetap teguh mengerjakan panggilan Kristus. Amin

KS:Minggu, 28 Nopember 2010



[1] Para perempuan di dunia ini sudah “tidak dapat berdiri tegak” berabad-abad bahkan sampai hari ini, karena dia ada dalam dunia laki-laki. Para perempuan juga dibahayakan hidupnya oleh laki-laki mulai dari medan perang sampai ke tempat tidur. Tambahan lagi perempuan dibuat “tidak dapat berdiri tegak” oleh kultur modern dewasa ini, di hadapan bedah kosmetik, mode pakaian, bentuk-bentuk diet eksesif, pengencangan kulit muka, penambahan dan pengurangan bagian-bagian tubuh tertentu, penggantian warna, model dan aksesori rambut mereka. Aktivtas trafficking korbannya selalu perempuan. TKW yang tak dibayar upahnya, dianiaya, diperkosa, dibunuh semuanya adalah perempuan.

Sabtu, 27 November 2010

Update GKI Humanitarian 23-26 November 2010

Update Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia

(Tim GKI) 23-26 November 2010

Jogja

23-26 November 2010

1) Masih menampung pengungsi di Pos Adisucipto sampai dengan tanggal 26 masih sisa 80 pengungsi.

2) Membuka pos baru di Dusun Wukirsari di Cangkringan untuk melayani warga sekitar Merapi yang sudah pulang ke rumah, namun belum mempunyai pekerjaan, air, listrik dll.

3) Tim GKI Jogja setiap hari menyedot air bersih dan membagikannya kepada masyarakat Dusun Kiaran Plagrak, Desa Wukirsari; Dusun Karanggeneng, Umbulharjo, Cangkringan.

4) Juga distribusi sembako, kerja bakti membersihkan dll

5) Melayani kebutuhan logistik secara selektif untuk masyarakat Tegal Klumprit, Dusun Krajan, masyarakat Srumbung, Sawangan dll yang benar-benar membutuhkan.

6) Pelayanan kesehatan masih berjalan terus, besok Sabtu ke Kecamatan Sawangan dan Srumbung

7) Pelayanan untuk anak di Pos Adisucipto masih berjalan

8) Selasa diadakan doa bersama di depan Balai Agung, Pdt. Paulus Lie ikut berdoa bersama tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama

9) Proses penjajagan pembuatan shelter masih terus diupayakan, namun konsep detail dan konsep relokasi dari pemerintah belum jelas, belum ada yang dapat ditindaklanjuti.

10) Salah satu program shelter adalah untuk dusun-dusun terparah seperti Dusun Bronggang, Bakalan, Srodokan, Gungan, Gondang, Ngepringan, Ngancar (yang banyak korban), Glagah Harjo, Petung, Dmk info (Paulus Lie)

Reported by

Pdt. Kuntadi Sumadikarya –

Tim GKI – Sinode GKI