Minggu, 07 November 2010

Update GKI Humanitarian 29-30 Okt 2010

Update Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia

(Tim GKI) 29-30 Oktober 2010

Jogjakarta

29/10/2010 17:23

Laporan Tim GKI Jogja

1) Melanjutkan program pembagian sembako dan pelayanan kesehatan gratis,

2) Bersama masyarakat keliling door to door mendistribusikan 800 paket sembako lengkap dan berbagai perlengkapan sehari-hari.

3) Membagikan mainan anak-anak. Mulai Sabtu besok kami masuk program trauma healing dan pengobatan, jadi ada permainan untuk anak dll.

4) Kami perlu obat keputihan, minyak kayu putih, celana dalam wanita, pembalut wanita, mainan anak-anak dalam jumlah sebanyak-banyaknya, dan tim trauma healing.

5) Tim GKI Juga menerima apresiasi baik dari berbagai tim lain yang bergabung ke Tim GKI terutama tim Jasa Raharja dll.

6) Satkorlak selalu menghubungi Tim GKI untuk berbagai info.

(Paulus Lie)

30/10/2010 09:33

Laporan pagi Tim GKI Jogja

1) Letusan semalam membuat panik semua penduduk, debu setebal 2 cm menutupi semua hal, jalan tak terlihat, posko 1 Tim GKI terpaksa dipindahkan karena pasir dan debu yang menutupinya luar biasa, pohon tumbang, mobil macet,

2) Karena itu pagi ini kami mengubah rencana: berkoordinasi dengan Satkorlak, semua relawan kami larang mengendarai motor karena bahaya, relawan wajib memakai kacamata besar dan masker. Pokoknya pagi ini kacau.

3) Misi utama pagi ini masih melayani anak-anak pengungsi makin stress karena sekolah-sekolah diliburkan,

4) Mengungsikan beberapa warga jemaat di dekat merapi. (Paulus lie)

30/10/2010 13:43

1) Hari ini Tim GKI Jogja sudah turun tak bisa bergerak, karena debu begitu dahsyat, sepeda motor dan mobil tak dapat saling lihat, banyak kecelakaan, pohon tumbang dll. Jalan tak terlihat.

2) Kondisi tak sehat, barak-barak dan Tim SAR juga mengungsi , sehingga Satkorlak menjadi kacau.

3) Sementara belum tahu mau apa dan harus bagaimana. Kami siapkan rencana alternatif buat barak pengungsian di Jogja, untuk masyarakat yang butuh tempat mengungsi yang lebih sehat, tempat baru disiapkan,...

4) Tlg didoakan, karena infonya akan ada letusan lebih besar...

(Paulus Lie)

Magelang

30/10/10

1) Pagi ini Tim Dokter Ukrida terdiri dari 10 dokter dan dua relawan tiba di Jogjakartadan bawa ke posko Tim GKI Magelang.

2) Tim GKI Magelang menjemput mereka untuk ke Posko Tim GKI Muntilan dan sekitar.

3) Doakan semoga mereka dapat bekerja di sasaran yang telah ditentukan di mana korban menunggu pertolongan mereka.

(Eka Setiawan)

Report by

Pdt. Kuntadi Sumadikarya - TGKI Sinode GKI

KS: Sabtu, 30 Oktober 2010

Jumat, 05 November 2010

Merespon Musibah Gunung Sinabung

Musibah Gunung Sinabung

Pada hari jumat 28 Agustus 2010, setelah tertidur selama 400 tahun. Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan mengeluarkan abu vulkanik dan lahar pada letusan pertamanya yang disertai awan abu vulkanik setinggi 3500 meter diatas permukaan laut. Aktivitas ini menyebabkan ketakutan yang menghinggapi ribuan penduduk yang bermukim disekitar Gunung Sinabung seperti Desa Kuta Gugung, Bekerah, Simacem, Sigarang-Garang, Naman, Gamber, Kuta Tonggal, Kutarayat, Berastepu1. Pada umumnya masyarakat daerah tanah karo sudah beberapa generasi tidak pernah mengalami bencana gunung meletus, terakhir adalah peristiwa meletusnya gunung sibayak (1881)2, dan gempa di daerah batu karang (1936)3.

Gambar letusan Gunung Sinabung 29 Agustus 2010 dimulai pukul 00.08 WIB4

Pada tanggal 31 agustus 2010 guna menjawab tanggap darurat bencana yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) maka Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI) hadir di kabupaten karo, mengunjungi salah satu daerah pengungsian di desa Perbesi kecamatan Tiga Binanga kabupaten Karo. Ditempat ini Tim GKI diterima oleh Pdt. Phillip Sembiring Meliala Pendeta pada gereja GBKP Runggun Perbesi. Ditempat ini Tim GKI menemukan ±250 orang pengungsi yang berasal dari desa Susuk dan Tanjung. Desa perbesi ini adalah salah satu desa yang terletak jauh dari ibukota kabupaten karo yaitu kabanjahe. Dengan kendaraan bermotor kira kira 2 jam perjalanan dari kabanjahe. Di desa inilah Tim GKI berencana akan membuat Posko untuk Pelayanan ke seluruh daerah yang berada disekitarnya yang belum sempat terjamah oleh tim medis.

Pada tanggal 01 september 2010, Tim GKI mengirimkan 3 orang relawan medis ( 2 orang dokter & 1 Orang relawan medis) dari Jakarta untuk bergabung dengan Tim GKI yang terlebih dahulu berada di Kabanjahe, guna mempersiapkan pokso di desa Perbesi. Di posko GBKP kabanjahe Tim GKI diterima oleh Pdt. Agus Purba, dan Pdt Shimon Tarigan. Oleh Moderamen GBKP di Kabanjahe Tim GKI di daulat untuk melayani desa perbesi dan sekitarnya.

Setelah bermalam si sentrum PPWG GBKP kabanjahe, keesokan harinya Tim GKI berangkat menuju ke desa perbesi. Setelah berkendara selama 2 jam Tim medis GKI tiba dan diterima oleh Pdt. Philip Meliala. Lalu Tim GKI diajak untuk bersantap siang bersama dengan para pengungsi. Di sini kami melihat baiknya koordinasi antara jemaat GBKP Perbesi dalam melayani para pengungsi, mulai dari mempersiapkan makanan di dapur umum hingga membagikannya pada para pengungsi. Nasi, sayuran, dan lauk pauk dibagikan dengan cara mencedok dari ember-ember yang membawanya. Bagi yang pertama kali melihatnya ini mungkin tidak sesuai dengan kebiasaan kita, namun hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan di tanah karo, jika ada acara besar seperti pernikahan, kematian, acara ulang tahun kampong ( Kerja tahun).

PENGUNGSI

Adat istiadat karo banyak mengambil peranan dalam koordinasi bencana seperti ini. Tutur Kalimbubu-anakberu (Strata sosial masyarakat karo), selain itu kebiasaan masyarakat karo yang menganggap tamu harus dilayani dengan baik, membuat semua relawan gereja dan pengungsi mengetahui tugasnya masing-masing. Hal ini dapat kita lihat pada setiap daerah pengungsian yang kita kunjung, sehingga pengungsi tidak ada yang kelaparan.

Para pengungsi banyak tersebar dibalai pertemuan rakyat (Jambur), baik milik pemerintah ataupun swasta yang tersebar dikota maupun desa dan di gereja-gereja.

Salah satu balai rakyat yang di layani oleh Tim GKI

Para pengungsi yang bertempat di jambur atau balai rakyat tinggal bersama-sama di tempat yang sempit dan tidak berdinding, daerah Tanah karo memiliki iklim yang dingin pada malam hari suhu dapat mencapai 18oC sehingga sangat dingin. Hal ini sungguh memprihatinkan terutama bagi pengungsi anak-anak ataupun balita, yang harus menahan dinginnya udara malam hari. Selain itu jumlah selimut yang masih terbatas menjadi kendala pada hari-hari pertama pasca letusan. Banyak diantara pengungsi yang juga kekurangan pakaian bersih karena sebagian besar diantara mereka langsung mengungsi begitu letusan terjadi sehingga tak jarang pakaian yang mereka pakai adalah satu-satunya pakaian yang tersisa. Begitupun pakaian anak-anak yang jumlahnya turut memprihatinkan. Untuk hal ini Tim GKI memberikan bantuan pakaian anak-anak untuk diberikan kepada pengungsi.

Pengobatan

Beberapa hari setelah letusan terjadi, banyak diantara para pengungsi yang mulai menderita penyakit. Hal ini terjadi akibat perubahan pola hidup, lingkungan, istirahat yang kurang, ketakutan, dan makanan.

Banyak diantara pengungsi yang mengalami ketakutan, setelah mendengar letusan gunung Sinabung pada malam itu, banyak diantara pasien yang dilayani Tim GKI mengeluhkan rasa takut dan was-was mereka setiap malam, bahwa letusan akan segera terjadi. Bahkan di desa susuk yang berjarak hanya 3 km dari puncak gunung sinabung warga ketakutan setelah mendengarkan suara kucing yang berjalan di atas seng, dan mengira itu adalah letusan gunung sehingga mereka sudah siap mengungsi.

Adapun Jadwal pelayanan Tim GKI :

Mengingat mereka telah tinggal di pengungsian selama beberapa hari maka banyak diantara pengungsi yang menderita penyakit, adapun jumlah bantuan yang diberikan oleh Tim GKI di beberapa tempat adalah sebagai berikut

  • Bantuan Medis
    1. 02/09/2010 Desa Perbesi 117 Orang
    2. 03/09/2010 Desa Perbesi 118 Orang
    3. 03/09/2010 Desa Bintang Meriah 71 Orang
    4. 03/09/2010 Desa Siabang-abang 100 Orang
    5. 03/09/2010 Desa Kutabuluh 50 Orang
    6. 04/09/2010 Desa Perbesi 48 Orang
    7. 05/09/2010 Sentrum GBKP 38 Orang
    8. 05/09/2010 Posko Departemen Agama Kabanjahe 20 Orang
    9. 06/09/2010 Desa Siabang-abang 92 Orang
    10. 06/09/2010 Desa Perbesi 101 Orang
    11. 08/09/2010 Sentrum GBKP 84 Orang
    12. 08/09/2010 Gereja GBKP Runggun Simpang Enam 29 Orang
    13. 09/09/2010 KWK GBKP Brastagi 95 Orang

Sehingga jumlah total yang dilayani Tim Medis GKI berjumlah 963 Orang

  • Bantuan Non-Medis

1. 600 buah baju dan celana berbagai ukuran untuk bayi dan anak-anak

2. Kebutuhan dapur antara lain:

a. Ember 24 buah

b. Baskom 4 buah

c. Teko 12 buah

d. Sendok 24 buah

e. Sendok sayur 24 buah

f. Desinfektan 10 box

g. Blender 1 buah

h. Tong 29 buah

i. Sendok sop besar 3 buah

j. Tapak gelas 24 buah

k. Box plastik

l. Penguatan dapur umum di penampungan pengungsi di sentrum GBKP

  • Perbekalan korlap

Bersama KA/KR GBKP Tim GKI melakukan pelayanan trauma healing di tempat pengungsian antara lain:

1. Kantor Klasis Kabanjahe

2. Jambur Tuah

3. Jambur Guru Pulungen

4. Jambur Sempakata

5. Sentrum GBKP

6. Gedung KA/KR jalan Katepul

7. Kantor Departemen Agama Kabanjahe

8. Jambur Lige

9. Jambur Adil Makmur

10. KWK Brastagi

11. Jambur Taras Brastagi

12. Desa Perbesi

13. Desa Singgamanik

14. Desa Tiga Binanga

15. Desa Tanjung

16. Desa Kuta Buluh

17. Desa Siabang-abang

Situasi tempat pengungsian yang ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang pada malam hari baik yang mempersiapkan makanan ataupun datangnya distribusi makanan dan bantuan-bantuan baik dari LSM maupun gereja banyak yang membuat para pengungsi susah tidur.

Selain itu banyak juga pasien menderita penyakit-penyakit yang sebelumnya sudah mereka derita, seperti Hipertensi, Diabetes Mellitus, Arthritis Gout (asam urat), dan hiperkolesterolemia. Pola makan sebagian besar Orang karo yang sering mengkonsumsi daging babi, dan santan tak jarang menyebabkan Tim Medis GKI menemukan pasien dengan tensi 220/140 mmHg, namun tidak menemukan keluhan berarti pada mereka, sudah tentu kebiasaan sepeti ini membuat banyak diantara mereka yang juga menderita Diabetes Mellitus dengan kadar gula darah hingga 450mg/ml.

Tim Medis GKI sedang memeriksa Pasien

Gangguan pernafasan (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) merupakan sebagian besar kasus yang dihadapi oleh Tim medis GKI, kasus ini sebagian besar dialami oleh anak-anak, dan balita. Akibat sanitasi yang buruk, lingkungan yang dingin dan makanan instant yang banyak dikonsumsi oleh pengungsi menyebabkan daya tahan tubuh mereka banyak yang turun sehingga anak-anak dan balita mudah terserang berbagai penyakit yang berkaitan dengan daya tahan tubuh seperti diare, dan infeksi virus.

Saat melayani di pengungsian KWK GBKP Berastagi, Tim Medis GKI yang sedang beristirahat pada malam hari, dibangunkan pada pukul 03.00 WIB karena ada pasien balita yang menderita panas tinggi ( hampir 400C ) keadaan pasien sudah sangat memprihatinkan karena jika dibiarkan lebih lama maka akan mengancam nyawa balita tersebut. Pada awalnya pasien tersebut sudah mencoba membangunkan salah satu anggota tim namun karena mereka datang dengan baju hitam anggota tim tersebut sempat ketakutan, karena seingatnya gerbang penginapan sudah di kunci dan memang daerah penginapan yang agak menakutkan. Setelah mereka mencoba untuk kedua kalinya maka salah satu anggota Tim GKI Pak Irianto membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk, setelah dilayani oleh dr. Johannes A Kemit dan diberikan obat-obatan mereka kembali ke tempat pengungsian yang lokasinya tak jauh dari penginapan Tim GKI. Alangkah senangnya ketika kami mendengar keesokan paginya bahwa panas yang diderita balita tersebut telah turun. Dan si balita dapat ceria kembali. Keesokan harinya Tim GKI dan pengungsi di KWK GBKP Berastagi dikunjungi oleh perwakilan dari Moderamen Pusat GBKP yang ingin mewawancarai pengungsi, dan tanpa sepengetahuan kami pasien yang berobat semalam menceritakan antusias dan kepuasan mereka.

Hal-hal yang menjadi kendala selama Pelayanan Tim Medis GKI di daerah Perbesi dan sekitarnya antara lain dikarenakan jarak antara kantung pengungsian satu dan yang lainya begitu jauh dan jalan raya yang rusak sehingga tak jarang untuk mendatangi satu tempat ketempat yang lain memakan waktu hingga tengah malam. Pelayanan kesehatan dibeberapa tempat pun sering dilakukan hingga malam hari. Hal ini dikarenakan pada siang hari banyak pengungsi yang bekerja dikebun mereka atau kembali ke rumah mereka untuk melihat-lihat keadaan harta benda yang mereka tinggalkan, dan kembali ke pengungsian pada malam harinya.

Laporan dari Teluk Wondama

Laporan dari Wasior, Teluk Wondama.

Suryadi Soedarmo (118)

Kedaan sewaktu saya disana 29 Oktober dan 30 Oktober 2010

  1. Kebanyakan penduduk (sekitar 80%) masih mengungsi.
  2. Rumah sakit darurat yang ditempatkan di gedung Depsos berfungsi, namun kekurangan segalanya.
  3. Jumlah dokter mencukupi (ini terutama disebabkan bantuan dokter dari GKI)., jumlah perawat kurang. Apabila para pengungsi mulai kembali akan terjadi kekurangan yang akut baik dokter maupun perawat.

Usul :

  1. Saya kira benar untuk mempertahankan tim GKI sampai 20 November 2010
  2. Perlengkapan tambahan telah diusulkan Dr.Elvina
  3. RS Mangurai :

= ruangan administrasi siap pakai

= ruangan perawatan harus dibersihkan

= pengalaman bertahun-tahun dalam bidang bencana mengajarkan saya bahwa tidak ada kerusakan struktural pada RS Mangurai.

Apabila ada keraguan mengenai keutuhan struktural, saya usul untuk mengundang Ir.Teddy Boen, ahli gempa dari ITB.

  1. RS Darurat secepatnya dipindah ke RS Mangurai

Lain-lain :

  1. Reservoir air yang ada di gunung Mandiboi telah berulang kali menimbulkan bencana air bah.

Saya tidak tahu apakah sudah ada langkah-langkah untuk mengendalikannya (tenaga hidroelektrik dan sumber air bersih ?), namun apabila tidak dilakukan sesuatu, seluruh Wasior akan tetap berada dalam suasana ketakutan, terutama saat hujan besar dan lama.

  1. Saya senang melihat tim GKI. Mereka datang dan berusaha memenuhi kebutuhan yang ada, berbeda dengan tim lain yang datang, buka tenda dan mulai pengobatan.

3 November 2010.

Tim GKI di Serui dan Wasior

Wasior Banjir.....

Sebagai ibukota Kabupaten Teluk Wondama yang tengah berkembang, kota kecil Wasior sesungguhnya berperan besar dan menyimpan sejarah penting dalam penyebaran Injil di bumi Cendrawasih. Di sini Bapak Peradaban Papua Pdt. Izaac Samuel Kijne membangun sekolah zending dan meletakkan Batu Peradaban. Akankah banjir badang mengoyakkan iman mereka?

Kabut duka tengah menggayut di Papua. Setelah gempa bumi di Kabupaten Yapen dan Waropen pada 16 Juni 2010, gempa berkekuatan 7,4 skala Richter kembali megguncang Kaimana pada 30 September 2010. Hanya selang 4 hari, banjir bandang menerjang Wasior, ibukota Teluk Wondama. Banjir yang membuat sejumlah kampung luluh lantak ini bersamaan dengan wafatnya Pdt. Wim Rumsarwir, mantan ketua Sinode GKI di Tanah Papua.

Batu Peradaban

Nama Wasior mulai dikenal luas ketika Pdt. Izaac Samuel Kijne mendirikan Sekolah Zending di Wondama pada 1925. Ia pindah dari Marsiman, tempat Injil masuk pertama kali di Papua pada 5 Februari 1855. Tahun 1857 Ottow dan Geissler membuka sekolah untuk mengajar anak-anak dan orang dewasa Papua tentang Injil dan etika hidup sebagai orang Kristen. Pusatnya di rumah zending dan gereja.

Salah satu yang paling dikenal di Wondama adalah Batu Peradaban yang diletakkan oleh Pdt. I.S. Kijne dengan pesannya: "Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925). Pesan religius Kijne selaku Bapak Peradaban orang Papua ini memiliki makna bahwa orang Papua akan tampil sebagai pemimpin di atas tanahnya sendiri. Selain Batu Peradaban, di Miei juga ada Batu Inspirasi. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kalau orang naik ke atas batu dan melihat alam indah di Wondama, dari situ muncul berbagai inspirasi untuk melakukan perubahan baru.

Setelah banjir, David Wompere sempat naik sampai ke batu peradaban. “Saya tulis di sana tentang nyanyian sunyi yang dinyanyikan untuk memberikan sebuah inspirasi baru yang menyatakan bahwa kasih Tuhan selalu ada di tempat itu. Saya akui bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anak di daerah itu, sebab itu fondasi berdasarkan kesaksian dari beberapa misionaris yang sudah menjadi sebuah sejarah sampai hari ini,” tutur David yang berada di kamp pengungsi Manokwari.

Batu Penjuru

Banjir bandang yang menewaskan lebih dari 150 jiwa dan ratusan lainnya hilang, serta ribuan orang kehilangan tempat tinggal menyisakan kegamangan. Akankah mereka dapat kembali ke Wasior? Beribu tanya dari ribuan pengungsi memang tidak bisa dijawab dalam waktu dekat. Banjir Wasior memang mengoyakkan iman dan menghanyutkan hampir segalanya. Tetapi, satu hal yang tak boleh hilang adalah pengharapan. Dan, untuk itulah kita perlu kembali kepada sumber pengharapan kita, Kristus sebagai batu penjuru.

Melayani yang terlayani

Untuk mencapai lokasi bencana di Wasior butuh perjuangan panjang. Kabar banjir bandang diterima Tim GKI ketika kembali dari pelayanan kesehatan di Urato, Waropen Timur (4/10). Setelah Tim GKI dapat berkomunikasi dengan Pimpinan di Jakarta via telepon selular maka Tim memutuskan untuk memberangkatkan Tim Evakuasi untuk bergabung dengan Tim lokal pada 5 Okt 2010, sementara karena kebutuhan untuk melayani warga di beberapa kampung di Waropen yang minim pelayanan dari tenaga medis (hanya ada 1 dokter PNS untuk satu kabupaten Waropen), disertai cuaca yang tidak bersahabat, Tim GKI bidang kesehatan baru bisa meninggalkan Waropen hari Kamis pagi menuju Serui. Rencananya, Tim ke Nabire lewat udara untuk melayani pengungsi di sana. Tapi, penerbangan yang sudah dijadwalkan batal terbang karena cuaca. Akhirnya, Sabtu malam Tim GKI dapat berangkat dengan menumpang KM Nggapulu. Setelah menempuh pelayaran 6 jam, Minggu pukul 05.00 WIT kapal tiba di Nabire. Dengan beberapa pertimbangan, Tim GKI memutuskan untuk melanjutkan ke Wasior dengan menambah perbekalan di Nabire. Dalam perjalanan menuju Wasior Tim melakukan pelayanan kesehatan pada korban yang ingin kembali ke Wasior walau kesehatan mereka sedikit terganggu.

Minggu siang sekitar Pukul 15.00 WIT, 10 Oktober 2010, ribuan warga memadati dermaga pelabuhan Kuri Pasai, Wasior sementara menunggu Kapal Motor (KM) Nggapulu merapat. Hujan rintik yang terus menitik tak membuat mereka beranjak. Dari kejauhan tampak arus pengungsi terus mengalir dengan latar puing-puing rumah dan balok-balok kayu yang berserakan.

Sambil menunggu kapal merapat, dari lambung kiri dek 6 KM Nggapulu Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (TGKI) melakukan koordinasi dan Pembagian tugas. Hasil koordinasi terjadi kesepakatan Nelles, Irwan, dr. Johanes, dr. Martin dan dr. Welly lihat situasi di lapangan. Bu Ade dan Bu Ratna kumpulkan data. Sugianto, Pdt. Resly, Pdt. Chris dan Pdt. Oropa ke posko GKI”. Setelah kapal sandar di Wasior, tim segera bergerak menghimpun informasi dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Mengunjungi Posko GKI Tanah Papua dan menemui Ketua Sinode GKI Tanah Papua Pdt. Jemima Krey, S.Th. dan Sekretaris Dept. Diakonia Pdt. Simon Wospakrik.

Melihat situasi yang ada yaitu sebagian besar warga telah mengungsi, tidak banyak yang bisa dilakukan di Wasior. Sementara, ribuan pengungsi yang dievakuasi mengunakan KM Nggapulu dalam kondisi yang memprihatinkan dan butuh perawatan. Akhirnya, tim memutuskan untuk melakukan pelayanan kesehatan diatas KM Nggapulu. Atas izin Nahkoda maka Tim melakukan Pelayanan Kesehatan dengan menyusuri tiap dek yang di huni para pengungsi. TGKI memulai pelayanan dari dek 6 hingga dek 4 sebagai tempat pengungsi Wasior. Selain itu ada beberapa pasien yang membutuhkan tindakan medis lebih lanjut maka TGKI meminjam poliklinik kapal yang berada dek 7 untuk melakukannya.

Pengungsi

Sekitar Pukul. 23.30 WIT, kapal sandar di pelabuhan Manokwari seluruh TGKI bidang kesehatan turun bersama para pengungsi. Setelah kurang lebih 3 Jam TGKI mencari tempat untuk beristirahat maka TGKI mendapat tempat untuk sejenak beristirahat.

Pagi baru 11 Okt 2010 kembali membangunkan semangat TGKI untuk menjumpai para pengungsi yang ada di Manokwari. Setelah berkoordinasi dengan Dan SATGAS Kopassus yang kebetulan kawan SMA salah satu relawan TGKI dan seorang pengusaha yang juga kawan salah satu relawan ketika pengusaha ini ada di Jakarta maka TGKI melawat pengungsi yang ditampung dilapangan Kodim kota Manokwari. Ketika TGKI ke penampungan pengungsi ternyata pelayanan kesehatan sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari. Setelah berbincang dengan petugas dari Dinas Kesehatan maka Tim GKI diminta untuk membagi kelambu dan bercakap-cakap dengan para pengungsi. Karena menurut petugas kesehatan yang kebanyakan bukan warga gereja sementara pengungsi sebagian besar adalah warga Gereja maka mereka agak sedikit terkendala komunikasi. Dalam pembagian kelambu dan percakapan dengan pengungsi mendapatkan banyak hal kisah yang menyedihkan. Kegiatan pelawatan ini seharusnya dilakukan oleh Gereja lokal secara rutin karena hidup di pengungsian bagaikan hidup dalam ketiadaan pengharapan. Mereka sangat memerlukan trauma healing.

Pelayanan Tim GKI yang berikut

Batas tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah sampai 1 Nov 2010 dan hal ini tidak menutup kemungkinan akan di perpanjang mengingat saat ini (17 Okt 2010) air kembali mengenangi Wasior.